Indahnya Jazz, Merdunya Gunung di Jazz Gunung

Indahnya Jazz, Merdunya Gunung di Jazz Gunung


Buat anak pantai penggemar My Chemichal Romance (eh udah bubar ya) seperti saya ini, gunung dan musik jazz adalah dua hal yang bukan jadi pilihan pertama. Hampir gak pernah ada musik jazz di playlist smartphone atau notebook. Bromo? Bisa empat sampai enam kali dalam sebulan saya ke tempat ini, apalagi saat peak season.

Jazz (di) Gunung (Bromo)?

Jazz Gunung memang bukan hal baru. Seperti halnya Jazz Pantai, event-event seperti ini emang cukup hits tiap tahunnya. Selain antusias tinggi dari penikmati musik jazz itu sendiri, juga dari wisatawan domestik dan asing karena kebetulan venue-nya bertempat di destinasi wisata. Khusus Jazz Gunung, tahun 2015 adalah gelaran ketujuh, dengan slogan  “Musik dan alam bersatu, Jazz Gunung kaping pitu.”

Jujur, awalnya saya tak terlalu cocern dengan gelara Jazz Gunung -meski udah tujuh tahun berturut-turut digelar di sekitar area TNBTS.

tak terlalu aware dengan event ini. Cukup sekedar tahu saja kalau lagi ada seniman-seniman jazz yang manggung di Bromo. Tapi bekerja di tourism industry bikin saya harus deal with it. Kalo kamu tak bisa menolaknya, ya berusahalah menikmatinya. Dan saya pun akhirnya mulai menikmati dunia perjazz-an di perbukitan ini.

Foreplay yang disuguhkan Java Banana Resort untuk Jazz Gunung memang perfect. Kombinasi udara dingin, angin kencang, dan kabut tipis di awal Juni. Tatanan panggung, kursi, dan tribun di area Jazz Gunung pun cukup apik. Jalur VIP, ekonomi, dan festival terpisah rapi. Toiletnya pun bersih dan ada petugas kebersihan yang standby. Gerai kopi, teh panas, dan pop mie berjejer di belakang panggung menyapa penikmat jazz yang ingin mencari kehangatan melawan dinginnnya udara Bromo.

Tulus on stage @jazzgunung, Jazz Gunung 2015.

A post shared by Alex Zulfikar (@zulfikaralex) on

Salut juga untuk sistem ticketing Jazz Gunung. Tidak ada tiket yang dijual on the spot. Semua tiket harus dibeli via online. Calon pengunjung Jazz Gunung harus menukarkan bukti pembelian online di counter yang disediakan panitia di Java Banana Resort. Sistemnya sebelas-duabelas kalo kita mau check-in pesawat di bandara. Setelah tiket dikonfirmasi, pengunjung akan memakai gelang sesuai jenis tiketnya, ada yang ekonomi, VIP, dan festival. Ada tiket yang hanya untuk satu hari show, ada tiket terusan untuk dua hari.

Jazz Gunung hari pertama, musisi-musisi jazz bergantian tampil sesuai rundown acara. Dari beberapa penampil, yang saya kenal sosonya cuma Jaduk Ferianto, Tohpati, dan tentu saja Tulus yang tampil sebagai penutup malam itu. Nama-nama musisi lainnya baru saya dengar ya di Bromo ini: Yuri Jo Collective, Ina Ladies, Ring of Fire Project, Malacca Ensemble, Nita Aartsen Quatro feat Ernesto Castillo. Dan sebagai orang Jawa, saya cukup menikati alunan musik yang dibawakan Jay & Gatra Wardaya yang berkalobrasi dengan seniman musik tradisional Korea Selatan, Su’m.

Jazz Gunung memang tak lantas bikin saya jatuh cinta pada musik jazz. Tapi setidaknya Jazz Gunung memberi sesuatu yang berbeda. Komposisi jazz berbalut hawa dingin Bromo memang sayang buat dilewatkan. Apalagi event ini cuma sekali dalam setahun. Tahun depan, sempatkan datang ke event ini, menikmati alunan musik sekaligus menikmati keindahan Bromo.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s