Mendaki Puncak Asia Tenggara di Gunung Kinabalu

Mendaki Puncak Asia Tenggara di Gunung Kinabalu


“In the end, you won’t remember the time you spent working in the office or mowing your lawn. Climb that goddamn mountain.” – Jack Kerouac

Belum pernah kebayang mendaki puncak tertinggi Asia Tenggara. Apalagi, saya bukan “anak gunung” yang tiap bulan rutin nanjak. Jujur, injek puncak Semeru aja belom pernah, apalagi Rinjani. Jangan lagi Kerinci. Paling banter cuman Bromo, Ijen, Krakatau. Eh tapi itu gunung juga kan?

Saat ada rencana trip ke Gunung Kinabalu, saya pun langsung mengiyakan. Tanpa tau dimana lokasinya, berapa meter tingginya, dan lain-lain. And the day has come! Awal Mei 2015, saya dan tiga kawan dari Jakarta berangkat menuju Kinabalu. Kami tidak langsung mendaki begitu tiba di Kota Kinabalu karena sempet jalan-jalan cantik di kota ini, maklum jiwa anak pantai masih kebawa sampai di Kinabalu.

Gunung Kinabalu berada di Kinabalu Park Sabah, negara bagian Malaysia di sisi utara Pulau Kalimantan alias Borneo. Lokasi Kinabalu Park sendiri berjarak kurang lebih 85 km atau dua jam perjalanan dari Bandaraya Kota Kinabalu. Anak gunung wajib nih masukin Kinabalu dalam bucketlist. Lokasi yang relatif gampang dijangkau, fasilitas mewah, dan jalur trekking yang ramah untuk segala usia pendaki menjadikan Kinabalu sebagai salah satu gunung favorit para pendaki dari penjuru dunia.

Wefie berempat di kafe seberang jalan Kinabalu Park

Puncak Gunung Kinabalu berada di ketinggian 4.095 mdpl, menjadikan puncak ini sebagai yang tertinggi di Asia Tenggara -tanpa mengikutkan bagian dari Himalaya di Myanmar dan Cartenz di Papua. Oleh warga Sabah, Gunung Kinabalu juga dianggap sebagai sakral, lambang kebesaran, dan kebanggaan. Bahkan bendera Sabah pun bergambar siluet Gunung Kinabalu.

Gunung Kinabalu gak punya kawah seperti kebanyakan gunung-gunung api di Indonesia. Puncak Kinabalu berupa gundukan batuan yang menjulang ke atas, kata Wikipedia sih karena gunung ini terbentuk dari tumbukan batuan litosfer jaman purba di Laut China Selatan dan Pulau Kalimantan. Penjelasan detailnya bisa satu semester sendiri nih, jadi kita nikmatin saja pendakian paling wow seumur hidup ini.

Empat pendaki, satu misi: puncak Kinabalu!

Jom! Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam dengan mobil van berisi 12 orang dari Padang Merdeka Kota Kinabalu, akhirnya kami tiba di Kinabalu Park, kawasan yang udah ditetapkan UNESCO sebagai World Heritage Site. Pengelolaan kawasan ini sangat profesional. Tidak semua traveler bisa go-show mendaki. Kita harus register dan booking online sejak jauh hari. Saat peak season, antrian registrasi pendakian bisa sampai enam bulan!

Selama di Kinabalu Park, kami memakai Sutera Sanctuary Lodge (thank you Eli yang mengurus segala sesuatunya sampai detail). Kami sempet khawatir dengan proses register karena booking yang sudah jauh hari dan selisih nilai Rupiah-Ringgit yang bikin gemes. Tapi akhirnya kami bisa bernafas lega karena semua baik-baik saja. Beruntung, kami juga dibantu Kak Nehra, front office SSL yang ramah dengan logat Melayu khasnya. Setelah checkin, kami kemudian berjalan menuju Grace Hostel, pondok dengan empat kamar dormitory dan dua kamar mandi terpisah, serta sebuah ruangan dapur sekaligus tempat nongkrong yang hangat.

Proses check-in di Sutera Sanctuary Lodge, dibantu Kak Nehra

Malam sebelum pendakian, kami sempat ambil jatah dinner di Balsam Buffet. Menu yang dihidangkan? Istimewa! Meskipun berlokasi di ketinggian 2000 sekian mdpl, sajiannya menu-menu istimewa seperti daging kambing, iga sapi, telur, nasi briyani, serta beberapa roti, puding, dan buah-buahan segar. Ini bener-bener menu termewah selama ngetrip naik gunung. Tapi karena kami berempat kelewat malam mengambil jatah makan malam nya, kami pun harus makan buru-buru. Bahkan, belum selesai makan pun pelayan udah ambil beberapa piring dan gelas di meja makan kami. Pffftttt!!! Tak apalah, yang penting tetep kenyang dan menikmati makan malam termewah di gunung. Kami kemudian balik ke shelter, tarik selimut dan simpan tenaga untuk pendakian esok pagi yang pastinya bakal kuras fisik dan stamina.

Ngobrol dan ngopi sore di shelter SSL, sehari sebelum climbing

Senin pagi, kami berangkat menuju starting point pendakian di Timpohon Gate (1.866 mdpl) dengan naik shuttle, ditemani seorang guide lokal bernama Zahren, lebih akrab disapa Ren. Setelah registrasi dan sewa trekking pole seharga RM 10, dimulailah pendakian terbesar abad ini. Yeah! Here we go, Mount Kinabalu!

Jalur pendakian Gunung Kinabalu sangat nyaman. Ada beberapa jalur yang sudah dipasang papan kayu, sebagian lagi berupa tanah kapur berbatu sesuai dengan kontur tanah dan ketinggian. Tanjakan pun terasa tak terlalu sulit karena sudah berupa anak tangga dari kayu. Oke, simpan beberapa kalimat tadi untuk 15 sampai 30 menit awal pendakian. Selanjutnya? Ampunnn Tuhannn…. Tanjakan dan anak tangga ini kayak gak ada habisnya, gak ada ujungnya. Suasana enjoy dan tawa kami berempat perlahan hilang ketika mencapai shelter demi shelter. Nafas mulai ngos-ngosan, kaki mulai pegel, dan punggung mulai merasakan beratnya ransel yang cuma berisi beberapa potong pakaian ganti untuk summit.

Selama jalur pendakian, kita memang bisa berhenti dan istirahat di shelter-shelter yang telah tersedia. Mulai dari Kandis Shelter, Ubah Shelter, Lowii Shelter, Mempening Shelter, Layang-Layang Hut, Willosa Shelter, dan Paka Shelter. Di tiap shelter tersedia air bersih dan toilet duduk, kecuali shelter terakhir, Paka, cuma ada toilet jongkok. Untuk makan siang, tiap pendaki sudah dibekali dua potong roti, sebiji apel, dan sebotol air mineral (paket dari SSL). Selebihnya, kita harus siap bawa makanan dan cemilan sendiri, terutama pengisi tenaga seperti coklat, biskuit, dan roti gandum. Jangan bayangkan Kinabalu seperti Bromo karena kita tak akan menemukan penjual minuman, kopi, atau pop-mie.

Mendaki gunung artinya kita harus kompromi dengan alam. Dan nasib kami tak terlalu mujur saat pendakian karena hujan deras sejak Lowii Shelter. Parahnya, hujannya mengandung formalin karena awet sampai sore. Kami pun harus mendaki dengan kondisi basah sampai Laban Rata. Beruntung semua sudah siap jas hujan dan raincoat untuk melindungi ransel. Tapi tetap saja, mendaki dalam kondisi basah itu sangat berat sekali. Dalam waktu normal, butuh waktu antara lima sampai enam jam dari Timpohon sampai Laban Rata. Kalau hujan, apalagi untuk pendaki abal-abal seperti kami ini, ya butuh waktu lebih dari enam jam untuk sampai Laban Rata.

Sampai di Laban Rata sekitar jam 16.00, kami langsung menyantap menu buffet mewah di ketinggian 3.273 mdpl. Semua pendaki harus sampai di Laban Rata sebelum jam lima sore untuk melakukan registrasi penginapan dan makan malam. Ada empat shelter dengan beberapa dormitory untuk istirahat dan bermalam. Usai makan, kami menuju Gunting Lagadan, shelter tempat kami menginap hingga summit keesokan dini hari. Gunting Lagadan letaknya sekitar 100 meter dari Laban Rata, dengan tanjakan dan puluhan anak tangga yang melengkapi derita kami sore itu.

Jalur pendakian dari Sayat-sayat menuju puncak Gunung Kinabalu

Di antara shelter lain di sekitar Laban Rata, Gunting Lagadan posisinya paling atas, 3.323 mdpl. Shelter lainnya adalah Pana Laban Hut (3.314 mdpl), Burlington Hut (3.271 mdpl), dan Waras Hut (3.244 mdpl). Fasilitas yang ada di shelter-shelter ini sangat memadai. Kami berempat menempati satu kamar dengan empat kasur, semacam dormitory. Ukurannya sempit, tapi sepertinya memang dibikin sempit untuk melawan udara dingin di malam hari. Sepatu dan baju yang basah akibat diguyur hujan sepanjang pendakian membuat kondisi makin membeku. Bahkan olesan geliga dan counterpain tak mampu melawan rasa dingin yang menusuk tulang di shelter Lagadan ini.

Jam dua dini hari, dering alarm dari HP kami saling bersahut. Dengan badan masih kedinginan dan mata mengantuk, kami harus prepare summit. Tampak di luar ruangan beberapa grup sudah bersiap melakukan pendakian. Di antara mereka terdapat grup yang beranggotakan bapak-bapak dan ibu-ibu usia 50 tahunan. Hishh… masa kita yang masih muda-muda gini kalah sama mereka? Jaket tebal, kaos kaki dibungkus kresek, penutup kepala, masker, headlamp, sarung tangan, semua siap. Kami pun bergerak keluar dari Gunting Lagadan bersama-sama dengan Rein.

Foto bareng Rein, guide lokal yang banyak bantu di akhir pendakian

Kondisi pendakian dari Gunting Lagadan menuju Sayat-sayat ini penuh tanjakan anak tangga dan batu. Gelap. Sangat gelap. Cuma ada cahaya dari senter dan headlamp para pendaki. Sekitar 200 meter sebelum Sayat-sayat, tanjakan berganti dengan tebing curam dan tali memanjang untuk pegangan. Sekitar jam 4.30 akirnya saya sampai juga di shelter terakhir, Sayat-sayat. Di shelter ini kita harus menunjukkan ID mendaki Kinabalu. Sebagai info, batas akhir pendaki sampai shelter ini adalah pukul 05.00, bila lebih dari waktu yang ditentukan maka pendaki sudah tak diperbolehkan melanjutkan pendakian menuju summit.

Lepas dari Sayat-sayat, jalurnya masih tebing berbatu dengan tali pengaman sepanjang kurang lebih 1 kilometer. Di jalur ini saya hampir menyerah, tak kuat lagi untuk naik, nafas pun sudah hampir habis, ditambah hawa dingin hembusan angin kencang di antara bebatuan puncak Kinabalu. Saya bahkan lupa berapa kali berhenti, duduk terengah-engah sambil berusaha mengatur nafas. Sayup-sayup terdengar para pendaki lainnya saling kasih semangat. You can make it! Yeah, I can make it!

We’re on the top of Borneo!

Sekitar jam 5.30, langit di timur mulai semburat merah, tanda fajar sebentar lagi muncul. Sementara di langit barat, bulan purnama tampak utuh di antara puncak South Peak (3.933 mdpl). Tiba-tiba terdengar teriakan dari bawah, “Alexxx!!!” Ternyata Eli. Akhirnya sampai juga dia. Eli muncul diikuti Libby. Akhirnya kami bertiga berkumpul di antara South Peak dan Donkey Ears. Lantas dimana Bayu? Pendaki yang satu ini rupanya sudah sampai puncak lebih dulu. Dan hari itu, 5 Mei 2015, Bayu adalah pendaki pertama yang sampai puncak! Congrats boy, we proud of you!

Gunung Kinabalu sendiri memiliki beberapa puncak: South Peak, Tunku Abdul Rahman Peak, Donkey Ears Peak, King Edward Peak, Ugly Sister Peak, St. John’s Peak, Alexandra Peak, dan puncak tertinggi Low’s Peak (4.095,2 mdpl). Batas waktu mencapai Low’s Peak adalah pukul 6.00, lewat dari itu pendaki diwajibkan turun ke Sayat-sayat untuk checkout di shelter dan mengambil breakfast di Laban Rata.

Saya, Eli, dan Libby memang tak seberuntung Bayu karena aturan pembatasan waktu. Padahal kami yakin bisa sampai Low’s Peak andai tak ada limit jam enam. Tapi tak apa lah, seperti kata Libby, puncak bukanlah tujuan akhir. Kami bertiga masih sempat foto-foto dan selfie di antara South Peak yang femes itu, juga melihat keindahan Donkey Ears, dan melihat Kota Kinabalu dengan pantai dan pulau-pulaunya di kejauhan.

Sekitar jam 6.30 kami mulai turun. Perjalanan turun ternyata lebih berat. Selain menahan beban, kami juga harus lebih berhati-hari ketika melewati tebing dan pegangan tali. Ada kejadian seorang pendaki jatuh karena kurang fokus saat pegangan tali. Jam 8.00 kami tiba di shelter Gunting Lagadan, packing, dan checkout. Sebelum melanjutkan perjalanan turun, kami sempat breakfast di Laban Rata, dengan menu yang tetap istimewa di ketinggian 3.273 mdpl.

Saat turun, nasib kami ternyata hampir sama dengan saat naik. Basah-basahan diguyur hujan gerimis sejak Willosa Shelter. Tak sederas saat naik memang, tapi cukup membuat kami harus pakai raincoat dan jas hujan. Belum lagi kondisi Libby yang sakit di lutut kiri, saya dan Libby pun harus berjalan lebih lambat dari pendaki yang lain, termasuk Eli dan Bayu yang pastinya sudah lebih dulu sampai Timpohon. Dengan perjuangan berat, saya dan Libby akhirnya sampai juga di Timpohon Gate sekitar jam 5, tak lama menjelang sunset.

Welcome Back! Foto berempat usai pendakian Gunung Kinabalu

Karena sudah malam, kami harus cari sewa mobil untuk transportasi menuju Kota Kinabalu. Beruntung, Rein punya kenalan rental mobil. Sekitar jam 8 malam kami tiba kembali di KK dan langsung menuju Lucy’s Homestay. Kami memang sudah memesan satu room dormitory untuk berempat sepulang dari Gunung Kinabalu. Malam terakhir di Kinabalu kami habiskan dengan menikmati sajian Chinese food, beberapa tusuk sate, dan sebotol Tiger dingin bersama Libby di Kedai Kopi Kota Kinabalu. Tawa dan senyum bahagia tampak di antara wajah kami berempat, senyum menaklukkan Kinabalu, tawa yang sejenak melupakan bagaimana sakit dan kramnya kaki serta kedua lutut ini setelah berjam-jam berjalan naik-turun Kinabalu.

Cheers! Secangkir kopi dan teh untuk merayakan pendakian Kinabalu

“It is not the mountain we conquer but ourselves,” kata Sir Edmund Hillary, pendaki legendaris Everest. Gunung Kinabalu benar-benar mengajarkan saya bagaimana mengalahkan diri sendiri, mengalahkan rasa dingin membeku, rasa putus asa, dan tentu saja mengingatkan diri ini untuk selalu menjaga kondisi. Melihat bagaimana bapak-bapak dan ibu-ibu China, Korea, dan Jepang usia 50-60an tahun masih kuat mendaki, menjadi pertanyaan pada diri sendiri, “Seandainya kelak diberi usia itu, akankah saya masih kuat mendaki?”

Laban Rata, buffet tertinggi abad ini ~ #Kinabalu #KinabaluPark #LabanRata #Sabah #Borneo #Malaysia

A post shared by Alex Zulfikar (@zulfikaralex) on

The Climbers

Eli – Partner in climb. Gak akan lupa gimana perjuangan kami dari Paka Shelter menuju Laban Rata. Hujan deras, tenaga habis, dan tanjakan tanpa ujung bikin kami hampir pingsan di Waras Hut (3.244 mdpl). Saya bahkan sempat terkapar di tanjakan bebatuan sekitar 200 meter dari Paka Shelter. Diantara Bayu dan Libby, kami adalah pendaki “paling amatir” yang nekat naik Kinabalu. Kenekatan yang memberi kami banyak pelajaran dan pengalaman yang tak terlupakan.

Bayu – Applaus dan angkat topi buat pendaki muda yang satu ini. Bayu adalah orang pertama yang mencapai puncak Kinabalu di hari pendakian kami. Saya sempat berpikir, ini anak lututnya terbuat dari apa sih? Bahkan sehari setelah pulang dari Kinabalu, Bayu udah berangkat aja ke Semeru. Belum lagi beberapa minggu kemudian ni anak udah nongol di puncak Kerinci. Dan sepertinya memang tinggal tunggu waktu aja dia sampai di puncak Cartenz, lalu Everest. You can make it, Bay!

Libby – Traveler paling senior di antara kami berempat. Libby sempat bermasalah dengan lutut kirinya saat perjalanan turun dari puncak Kinabalu. Tapi Libby mampu mengalahkan rasa sakitnya itu dengan tetap berjalan sampai akhirnya tiba di Timpohon Gate sebelum gelap. Libby pula yang kasih kami -saya dan Eli- selamat tiap kali kami melampaui beberapa puncak gunung di Indonesia, seperti Gunung Gede, Pangrango, Semeru, Rinjani, hingga Kerinci. Bangga dong, meski belum pernah ke semua puncak itu, setidaknya kami udah melewati ketinggiannya di Kinabalu.

Gempa Kinabalu

Tepat sebulan setelah kami mendaki Gunung Kinabalu, gempa berkekuatan 6 skalarichter melanda gunung ini. Gempa mengakibatkan ratusan pendaki terjebak, belasan dikabarkan tewas –termasuk beberapa guide- dan runtuhnya Donkey Ears. Ulah turis asing yang nekat foto bugil di puncak Kinabalu disebut-sebut sebagai salah satu penyebab gempa. Saya sendiri tak percaya mitos atau hal mistis, tapi saya juga tak respek pada aksi bugil turis-turis itu karena bagaimanapun juga kita harus menghormati kultur lokal dimanapun kita berada. Traveling is about respect the local cultures, traditions, and holy places.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s