Seafood, Sunset, dan Suasana Baru di Kota Kinabalu

Seafood, Sunset, dan Suasana Baru di Kota Kinabalu


I’m in love with cities I’ve never been to and people I’ve never met.

Tujuh dari sepuluh stempel di paspor hijau yang lusuh dan kucel ini adalah imigrasi Malaysia. Negara tetangga ini memang paling sering jadi tempat singgah, entah sekedar transit atau bawa trip. Tapi semua lewat semenanjung Malaya (Kuala Lumpur dan Johor Bahru), belum sekalipun lewat “kepala” Borneo alias Serawak.

April 2015 kemarin akhirnya singgah juga di Sabah, Serawak. Mana lagi yang dituju kalau bukan Kota Kinabalu. Kota pelabuhan yang juga ibukota Sabah ini udah lama masuk bucketlist sebelum melakukan pendakian Gunung Kinabalu bersama tiga traveler dari Jakarta, Eli, Bayu, dan Libby.

Jangan bayangkan Kota Kinabalu seperti Kuala Lumpur. KK (baca: ke-ke) ini kota pelabuhan yang gak gede-gede amat. Pusat kotanya (Bandaraya) cuma lima belas menit dari KKIA (Kota Kinabalu International Airport). Pusat keramaian, pusat perbelanjaan, hingga pusat kuliner ada di sekitar dermaga dan Jalan Gaya. Hostel dan penginapan budget favorit backpacker juga ada di Jalan Gaya. Cuma perlu jalan kaki sekitar 30 untuk keliling pusat kota dan tourist attraction di sekitar Bandaraya.

Tapi itulah yang bikin Kota Kinabalu kelihatan cantik. Kotanya kecil, bersih, gak ada macet, penduduknya ramah-ramah, dan cuaca pelabuhan yang tak terlalu terik. Di siang hari kita bisa jalan-jalan di pusat perbelanjaan sekitar Jalan Gaya, kulineran di Warung Sulawesi dan Kedai Kopi Kinabalu, atau sekedar tiduran di hostel sambil nunggu sore buat menikmati senja di sekitar Patung Ikan Todak (semacam Marlin) dan Jesselton Point.

After sunset, kita sudah menemukan deretan tenda-tenda penjual aneka seafood. Hampir semua jenis ikan dan seafood disini segar-segar dengan ukuran lumayan besar. Harganya? Relatif terjangkau. Beberapa pedagang dan pelayan warung berasal dari Indonesia, ada yang dari Semarang, Makassar, Kendari, dan Bau-bau.

Eli dan Bayu mulai tergoda streetfood Kota Kinabalu

“Dari Indonesia juga bang? Kita kasih diskon lah, ayo pilih-pilih ikan, cumi, dan udangnya. Nanti kita carikan tempat duduk,” kata seorang pedagang yang mengaku berasal dari Kendari dan bercerita panjang lebar tentang keindahan Wakatobi. Saat sore, lumayan susah dapet tempat duduk di warung-warung, full house euy, rame gilak. Bule dan lokal (kita termasuk bule juga kan) tumpek blek pada cari seafood di tempat ini.

“ndonesia mana mas? Jawa? Surabaya? Aku soko Semarang!” sapa pelayan di tenda sebelahnya ketika saya melihat-lihat aneka rajungan dan sotong segar yang siap dibakar. Duh, sepertinya kesalahan deh pakai kaos dengan tulisan “Indonesian Traveler” di tempat ini. Hampir semua pelayan dan pedagangnya sesama WNI cuy! Tapi efek positifnya, kami jadi cepet akrab, dan… dapet diskon beberapa lembar ringgit.

Seafood Kota Kinabalu: besar, segar, nikmat, dan harganya terjangkau

Kota Kinabalu memang surganya kuliner, terutama seafood. Cara masak dan penyajiannya juga istimewa, mungkin karena koki dan pelayannya rata-rata dari Indonesia, khususnya daerah Makassar dan Kendari, yang emang terkenal sebagai “Mekkah-nya seafood Nusantara”.

Tapi kalo kamu kurang suka dengan menu laut, Kota Kinabalu masih punya banyak menu alternatif, gak cuma seafood. Seperti Kuala Lumpur, disini juga mudah kita temui kedai kopi, teh tarik, dan masakan India seperti Roti Canai, Maggie, Nasi Lemak, Nasi Briyani, dan beberapa menu Chinese food. Tapi dibandingkan KL, varian rasa di sini sedikit hambar alias tanggung. But that’s not a big deal. Saya selalu suka menikmati menu lokal, bagaimana pun rasanya. Setidaknya, menyesal mencoba lebih baik daripada menyesal tidak mencoba.

Chinese food Kota Kinabalu juga lezat dan murah

Untuk transportasi publik, Kota Kinabalu memang tak semodern dan senyaman KL, tapi cukup lengkap karena ada bis kota yang berhenti di tiap halte. Juga ada minibus (semacam angkot) atau van yang salah satu jalurnya menuju Kinabalu Park, tempat pendakian Gunung Kinabalu. Selama tiga hari di Kota Kinabalu, saya sempat sewa motosikal. Tapi sepertinya sewa sepeda motor bukan hal yang recomended di kota ini karena dua hal: susah cari tempat parkir dan repot isi bensin.

Untuk berhenti makan saja kami harus muter-muter setengah jam cari tempat parkir, dan akhirnya naruh sepeda motor begitu saja di trotoar. Yang penting ada motor lain yang ditaruh situ dan tempatnya cukup teduh di bawah pohon. Belum lagi momen konyol saat kami tak tau bagaimana cara mengisi bensin di SPBU. Setelah mengamati beberapa pembeli lainnya, akhirnya kami pun paham bahwa di Kota Kinabalu ini kita tak bisa beli bensin “full-tank” seperti di Indonesia. Kita harus taruh motor di dekat tempat pengisian, lalu berjalan menuju loket, memilih jenis dan jumlah liter BBM yang akan dibeli, baru kemudian kembali menuju kendaraan untuk mengisi sendiri tangki. Self service. That was one of many -but funny- awkward moment in KK.

Mengunjungi tourist attraction di Kota Kinabalu pun sebenarnya kita tak perlu naik motosikal ataupun kereta. Cukup jalan kaki, kita bisa menuju Atkinson Clock Tower, Signal Hill, Waterfront, dan Gaya Street karena semua tempat ini memang berada dalam satu area yang disebut Walking Tour Kota Kinabalu. Saat sore, mampirlah ke Jesselton Point, pelabuhan utama di Kota Kinabalu dengan beberapa cafe di pinggir laut yang bernuansa romantis. Dermaganya tepat menghadap barat, which is sempurna buat sunset-an.

Beruntungnya saya berada di Kota Kinabalu saat akhir pekan. Tiap hari Minggu, jalan-jalan di sekitar Jalan Gaya ditutup dan menjadi arena pasar kaget yang hits banget, namanya Sunday Market. Berbagai barang kebutuhan sehari-hari, souvenir, dan kuliner streetfood ada di sini. Mayoritas barang-barangnya khas Sabah, termasuk hasil bumi, makanan, minuman, dan oleh-oleh. Harganya relatif lebih murah dan bisa ditawar. Jadi tak perlu lagi mampir toko oleh-oleh karena semua bisa kita dapatkan di Sunday Market ini.

Ada syuting video klip saat kami ke Sunday Market Kota Kinabalu

NB: Saat di Sunday Market, kami sempat ikut berkumpul di salah satu ujung jalan dimana ada sebuah kelompok seniman yang sedang bikin video klip. Hasil rekaman mereka bisa dilihat di sini.

Tiga hari jalan-jalan di Kinabalu membuat saya sangat menikmati suasana tenang, nyaman, dan bersihnya kota ini. Kota Kinabalu sangat cocok buat kamu yang suka ketenangan serta menjauhkan diri dari kebisingan dan kemacetan. Cobalah dua-tiga hari tinggal di kota ini, sebelum atau sesudah mendaki Gunung Kinabalu, dijamin pasti ingin kembali lagi ke kota kecil ini, sekedar menikmati senja di Jesselton Point atau kuliner malam di Kampung Nelayan Floating Seafood dan KK Night Seafood Market.

MUST-VISIT-PLACE DI KOTA KINABALU

Jesselton Point

Pelabuhan utama sekaligus pintu masuk Kota Kinabalu dari jalur laut. Pelabuhan ini sudah ada sejak jaman kolonial Inggris dan menjadi starting point bagi traveler yang ingin menikmati pulau-pulau di utara KK, seperti Pulau Manukan, Pulau Gaya, dan sekitarnya. Di kanan-kiri Jesselton Point terdapat cafe di atas dermaga sekaligus spot sunset yang super romantis dari pelabuhan eksotik ini.

Street Food Market

Kota Kinabalu terkenal dengan hasil lautnya yang melimpah. Tak heran, di sepanjang pantai di dekat Patung Ikan Todak berjejer gerai seafood dari sore sampai malam. Bermacam jenis ikan, cumi, udang, lobster segar dengan bumbu khas Kinabalu bisa kita dapatkan disini. Harganya pun relatif tak terlalu mahal. Eat like locals!

Sabah Museum

Sekitar 20 menit dari pusat kota Kinabalu, Sabah Museum adalah lokasi terbaik untuk mengenal etnik dan kultur Sabah yang sebagian besar masih berkaitan dengan budaya Dayak. Ada Heritage Village dengan contoh tempat tinggal suku tradisional dan rumah bambu Kadazan. Juga ada gerai souvenir Sabah Art Gallery. Tiket masuk museum ini RM3 untuk warga Malaysia dan RM15 untuk non Malaysia.

Sunday Market Jalan Gaya

Datanglah ke Kota Kinabalu saat weekend dan jangan lupa mampir Sunday Market Jalan Gaya. Semacam “pasar kaget” yang digelar tiap Minggu pagi dari jam 6 sampai tengah hari. Dari barang kebutuhan sehari-hari warga sekitar hingga beragam street-food dan souvenir murah bisa kita dapatkan di sini. Buah-buahan segar dan street-food-nya wajib diicip!

Pisang merah di Sunday Market Kota Kinabalu!

Signal Hill Observatory Platform

Semacam view point untuk menikmati landscape Kota Kinabalu dari ketinggian. Lokasinya bisa diakses dengan jalan kaki dari Signal Hill Trail 1 dan 2 yang berada di selatan Jalan Gaya. Kita juga bisa naik taksi dari Padang Merdeka menuju lokasi ini. Signal Hill Observatory Platform berada di tepi jalan raya, bisa dikunjungi kapan saja, tidak dipungut biaya, dan ada cafe untuk menikmati minuman segar khas Kinabalu.

Kinabalu Park

Inilah destinasi utama pelancong ke Kota Kinabalu. Kawasan World Heritage Site ini merupakan “pintu masuk” pendakian Gunung Kinabalu. Terdapat sejumlah resort, buffet resto, shelter, dan jalur pendakian ke puncak Kinabalu di kawasan ini. Jangan lupa booking dulu sebelum melakukan pendakian karena tak semua pendaki bisa go-show di sini. “Kamu harus isi form pendaftaran dulu. Nanti aku siapkan untuk kamu,” kata Kak Nehra. Datanglah ke Kinabalu Park dan kamu akan mengenal siapa itu Kak Nehra.

MENUJU KOTA KINABALU

1. Pesawat Jakarta – Kota Kinabalu by Air Asia, ada penerbangan setiap hari dengan tiket PP sekitar IDR 1.500.000,-
2. Pesawat dari kota-kota lain di Indonesia bisa transit dulu di Kuala Lumpur, kemudian melanjutkan penerbangan ke Kota Kinabalu.
3. Dari airport Kota Kinabalu ada shuttle bus menuju Bandaraya Kinabalu dengan tarif RM 3. Bila kedatangan malam hari, tarif taksi bandara ke kota adalah RM 45, bisa share cost. Tarif taksi siang hari lebih murah, RM 30.

Suasana homey di PODs, hostel jujugan kami di Kota Kinabalu

PENGINAPAN DI KOTA KINABALU

Banyak penginapan kelas dormitory ala backpacker di sekitar Jalan Gaya. Mulai dari Sensi Backpackers, Borneo Backpackers, Kinabalu Backpackers Lodge, Lavender Lodge, PODs The Backpackers Home, atau Lucy’s Homestay, dengan tarif antara RM 25 sampai RM 35 per malam. Fasilitas semua hostel hampir sama, seperti free Wifi, shower air panas, AC dan kipas angin (tergantung ketersediaan), dan breakfast.

Bersama Lucy, “ibu angkat” selama di Lucy’s Homestay Kota Kinabalu

Di Kinabalu, saya dan tiga orang teman dari Jakarta juga menginap di Lucy’s Homestay. Suasananya homey banget, feels like home! Letaknya di ujung Jalan Gaya Lorong Dewan, tepat di bawah Signal Hill Trail 2. Kami bertemu Sam, orang Korea yang lama tinggal di Jakarta dan sedang menggarap sebuah project film, kami juga bertemu Lucy, sang owner sekaligus “ibu angkat” kami selama di Kota Kinabalu. Ia banyak membantu kami, mulai menyediakan sewa sepeda motor dan mengosongkan kamar hanya untuk kami setelah pulang dari Gunung Kinabalu. Thank you Mommy Lucy, semoga kelak bisa mampir di hostel sederhana dan nyaman ini.

MENUJU KINABALU PARK

1. Jarak Kinabalu Park dengan Kota Kinabalu kurang lebih 100 km atau dua jam perjalanan dengan minibus.
2. Minibus Padang Merdeka – Kinabalu Park, setiap hari dari pagi sampai sore, tarif per orang RM 20 per orang.
3. Bisa juga naik bis umum dari Terminal Inanam, tujuan Sandakan, berhenti di Kinabalu Park.

Empat Sekawan di Kota Kinabalu

Eli – Diantara ketiga temen trip di KK, Eli yang udah saya kenal. Dua kali ketemu women traveler satu ini waktu ngetrip ke Baluran-Kawah Ijen-Banyuwangi bareng Fun Adventure dan gak sengaja ketemu lagi di Danau Kelimutu, Flores. Doi ini traveler yang tough, hampir khatam semua destinasi Nusantara dan pinter ngatur waktu antara ngantor, ngetrip, dan ngeblog di travellie.com.

Bayu – Baru kenal dan ketemu sosok Bayu di Terminal 3 Bandara Soetta saat mau checkin AirAsia ke Kota Kinabalu. Anaknya seru, gampang akrab, dan langsung nyambung diajak ngobrol, terutama soal gunung. Wajar, doi udah khatam hampir semua puncak di Indonesia, dari Kerinci, Semeru, sampai Rinjani -kecuali puncak Papua yang pastinya udah masuk bucketlist. Kinabalu adalah pendakian gunung pertamanya di luar negeri, dan saya sangat salut dengan pendaki muda yang satu ini.

Libby – Kenal sosok Libby ini waktu hari kedua di KK. Doi memang datang paling akhir dan stay di penginapan yang berbeda sebelum perjalanan ke Kinabalu Park. Diantara kami berempat, Libby ini paling senior. Dari Libby juga saya dapat banyak “ilmu baru” tentang gunung, budaya, dan kultur beberapa daerah pelosok di Indonesia, khususnya kawasan Timur. Dan bersama Libby juga akhirnya saya punya temen minum sebotol Tiger dingin di Kota Kinabalu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s