Humba Ailulu! Surga Indonesia Timur di Pulau Sumba (1)

Humba Ailulu! Surga Indonesia Timur di Pulau Sumba (1)


“Mau liburan ke Bali?” tanya seorang ibu yang duduk di sebelah saya pada penerbangan pagi AirAsia dari Surabaya ke Denpasar. “Enggak, cuma transit aja. Mau ke Sumba,” jawab saya. Lalu si Ibu itu pun bertanya, “Sumba itu deketnya Lombok ya?”

Well, beliau bukan orang pertama yang saya temui dan masih ambigu antara Sumba dan Sumbawa. Sumba bukan Sumbawa. Sumba di NTT, Sumbawa di NTB. Pamor Sumba sebagai destinasi wisata memang lagi naik beberapa waktu terakhir, salah satunya pasca penayangan film Pendekar Tongkat Emas, atau acara-acara traveling di televisi. Tapi buat saya, Sumba udah masuk bucketlist sejak lama, jauh sebelum booming PTE atau MTMA.

Once a year, go someplace you’ve never been before. – Dalai Lama

Transit di Bali, saya bertemu Shelly dari Fun Adventure yang kemudian mengenalkan saya pada beberapa temen trip Sumba seperti Sisco, Fara, Indi, Fitri, dan kemudian Mas Anto yang ketemu di gate keberangkatan. Juga ada Oni, yang mulai akrab setelah tiba di Sumba. Saya juga ketemu Mbak Magda yang dulu pernah sama-sama trip ke Flores. Trip kali ini Magda bareng Clara. Trip kali ini saya bantu Fun Adventure sebagai TL, tapi seperti trip-trip yang lain, saya selalu berusaha membaur dengan peserta, karena buat saya, kita melakukan perjalanan yang sama, menikmati destinasi yang sama, pantai yang sama, menanjak bukit yang sama, dan menatap sunset yang sama.

HARI PERTAMA

Pesawat ATR Wings Air yang kami tumpangi takeoff sekitar jam 10.30 dari DPS. Satu jam perjalanan menuju Sumba terasa cepat karena sepanjang penerbangan kami disuguhi pemandangan indah pulau-tebing-pantai di sekitar Bali, Lombok, dan Sumbawa. Usahakan minta window seat tiap kali terbang ke Sumba karena pemandangannya cakep maksimal.

Sekitar jam 12.00 kami mendarat di Bandara Tambolaka. Dari atas terlihat kondisi alam Sumba Barat yang sangat hijau, pepohonan dan perkebunan yang rimbun, serta rumah-rumah penduduk yang jaraknya cukup berjauhan. Tak ada kepadatan pemukiman, tak ada gedung bertingkat. Hanya hutan, kebun, dan padang savana. Sebuah pertanda bahwa kami benar-benar tiba di sebuah daerah baru, suasana baru, kultur baru, dan petualangan baru. Selamat datang di Sumba!

Tampak luar bangunan terminal Bandara Tambolaka, baru dan bersih

Cuaca terik dan panas di runway Bandara Tambolaka membuat kami cepat-cepat menuju terminal kedatangan. Saya tak mengira kota kabupaten sekelas Tambolaka punya bandara kecil dengan bangunan baru yang cukup rapi, bersih, dan nyaman. Bahkan untuk kelas bandara-bandara perintis di Indonesia Timur, Tambolaka ini mungkin salah satu yang terbaru dan terbaik. Setelah ambil bagasi dan menunggu seluruh peserta kumpul, kami keluar bandara dan sudah ditunggu guide lokal Sumba. Mereka adalah Jo, Agus, dan Putra yang lebih akrab disapa Ciput. Kami bergegas menuju penginapan di Hotel Sinar Tambolaka untuk naruh tas, makan siang, dan melanjutkan perjalanan sesuai itinerary hari pertama di Sumba.

The Guide

Jo – Nama lengkapnya Jonathan Hani. Kami cukup akrab karena pengusaha muda ini ternyata mengerti Boso Suroboyoan, maklum Jo pernah kuliah di Surabaya. Dari Jo pula saya tahu banyak tentang Sumba, orang-orangnya, budaya dan kulturnya, sampai rencana pengembangan Sumba ke depan sekaligus tantangan dan resistensinya. Follow instagramnya di @jonathhani. Keep up the hard work, Kakak Jo!

Agus – Nama bekennya Agus Hong, dan ternyata doi ini sangat femes, scroll deh Instagramnya di @agushong. Pemuda yang satu ini sudah lama tinggal di Sumba dan rupanya dia sedang dalam agenda longtrip, udah setahun lebih Agus berkelana setelah resign dari kerja kantoran. Dan Si Agus juga yang bikin trip Sumba ini makin seru dan colorful.

Ciput – Pemuda asal Bandung yang sedang road trip naik sepeda motor Sunda-Bali, dan terdampar di Sumba! Salut dengan Ciput, entrepreneur muda yang cari pengalaman solotrip ke Indonesia Timur, hingga akhirnya bertemu Jo, Agus, dan kami-kami ini di Tanah Sumba. Oh iya, Ciput juga punya lini hammock yang bisa kamu cek-cek di @hammocktrippy.

Selain tiga sekawan Jo, Agus, dan Ciput, ada juga Pak Bele, sopir elf dengan nada suaranya yang sangat tinggi, bahkan sekedar menjawab telepon saja bisa bikin saya kaget setengah mati. Tapi Pak Bele ini sosok yang humble dan bertanggung jawab. Saya lihat sendiri gimana dia dengan sabar membawa kami dari satu destinasi ke destinasi lain di Sumba, dari barat ke timur. Bahkan saat radiator mobil bermasalah, dua kali pecah ban dalam sehari. Salut dan dua jempol deh buat bapak! Sssttt, Pak Bele juga yang menyediakan saya sebotol Peci, minuman khas Sumba.

A journey is best measured in friends rather than miles. – Tim Cahill

Setelah taruh ransel dan menyantap lunchbox di hotel, kami bergegas menuju Desa Adat Rotenggaro. Selama perjalanan menuju destinasi ini, saya semobil dengan Agus dan Ciput di Hilux putihnya Jo. Sementara Jo menemani Shelly dan teman-teman yang lain di mobil elf. Sepanjang jalan menuju Rotenggaro, Agus banyak bercerita tentang Sumba, sementara Ciput juga menceritakan roadtrip-nya dari Bandung hingga akhirnya sampai di Sumba. Dengerin dua anak ini bercerita, pengen rasanya kembali ke usia awal 20an, berkelana bebas mengikuti arah angin  ke Indonesia Timur.

Halo Rotenggaro! Di depan bangunan desa adat yang femes ini

Tiba di Rotenggaro, cuaca mendung diikuti gerimis. Kami pun harus hati-hati jalan di sekitar rumah-rumah adat desa ini karena banyak “ranjau” kuda, babi, dan kambing. Desa Adat Rotenggaro sendiri lokasinya berada tepat di tepi laut. Ciri khas desa ini adalah rumah panggung beratap jerami yang menjulang tinggi. Bagian bawah rumah berfungsi sebagai kandang ternak: babi dan kambing. Di depan rumah ada beberapa batu besar yang berfungsi sebagai makam leluhur. Makam-makam ini tak hanya terletak di depan rumah, tapi juga hampir semua sudut dan pintu masuk desa adat Rotenggaro. Beberapa makam batu usianya sudah puluhan dan ratusan tahun. Desa Adat Rotenggaro seperti membawa kami kembali ke masa lalu, masa megalitik dengan kuburan sarkofagus-nya. Dan inilah yang membuat Sumba itu unik karena di jaman modern seperti ini masih mempertahankan kepercayaan dan budaya leluhur secara turun temurun.

Selfie bareng adik-adik desa adat Rotenggaro. (by Fara)

Dari Rotenggaro, kami menuju Pantai Pero. Maksud hati ingin menikmati sunset, apa daya hujan makin lebat. Konon panta ini dikenal dengan pasir putih halus dan garis pantainya yang panjang. Ombaknya juga jadi primadona surfer dan jadi salah satu spot surfing terbaik di Sumba Barat. Oke, karena tak mungkin lagi untuk bersunset di Pantai Pero, kami pun memutuskan untuk kembali ke penginapan di Tambolaka.

Apa daya, dalam perjalanan kembali ke Tambolaka, mobil elf bermasalah dengan radiator. Mobil sempat mengeluarkan asap dan semua peserta trip yang ada di elf pun terpaksa turun. Untung Pak Bele cukup sigap dan mengisi ulang air radiator dengan menghabiskan sekardus botol aqua yang harusnya jadi jatah minum kami.

HARI KEDUA

Masih jam lima pagi waktu Tambolaka, tapi matahari sudah mulai terang dan kami harus bersiap untuk perjalanan ke kawasan Sumba Barat Daya lainnya, dengan dua spot tujuan: Danau Weekuri dan Pantai Mandorak. Saya cukup menikmati perjalanan pagi menuju dua tempat ini. Udara segar, aktivitas pagi warga Tambolaka, serta anak-anak Sumba yang sedang jalan kaki menuju sekolah. Mereka selalu tersenyum lepas dan melambaikan tangan setiap kami sapa dari mobil. “Selamat pagiiiii kakaaaaakkkkk!!!”

Setelah kurang lebih 45 menit melalui jalan beraspal yang sempit, dengan kiri kanan tumbuh semak belukar tinggi yang menjorok ke jalan -tandanya jalan ini jarang dilewati mobil- kami akhirnya tiba di Danau Weekuri. Udara masih sangat segar. Matahari bersinar maksimal. Suara burung-burung bersahutan di antara pohon dan belukar. Semua rombongan langsung berpencar begitu tiba di danau. Rupanya mereka tak ingin membuang waktu untuk mengabadikan keindahan danau ini. Permukaan danau begitu bening, bahkan pasir dan batuan di dasarnya pun kelihatan dari atas danau.

Saya langsung ambil kamera dan berjalan menuju ujung danau untuk menghindari backlight matahari. Untuk menuju spot ini, saya harus melalui semak belukar yang cukup tinggi. Saya ditemani Christian, teman sekampus Shelly asal Jawa Timur yang sudah beberapa tahun menetap dan bekerja di Waikabubak, Sumba Tengah. Si Christian ini memang tidak ikut keseluruhan trip, tapi hanya numpang main ke Weekuri dan Mandorak karena siang harinya dia harus kembali ke Tambolaka untuk menghadiri acara pernikahan rekan kerjanya.

Danau Weekuri memang unik, selain air payau berwarna bening kebiruan, di sekeliling danau juga terdapat trekking area dan kita bisa naik ke atas perbukitan karang untuk mendapatkan view laut dan danau dari atas. Air yang mengisi Danau Weekuri ini merupakan “kiriman” air laut yang masuk dari celah-celah tebing dan menyatu dengan sumber air tawar di ujung lagoon. Beningnya Danau Weekuri bikin siapa pun yang datang gak akan bisa menahan diri untuk tidak nyebur ke danau. Saya dan temen-temen pun, setelah puas foto-foto di atas bukit karang, kami kemudian ganti baju, dan… byuuuurrrrrr!!! Kami begitu bebas menikmati segarnya Danau Weekuri. Dan sepinya danau ini berasa seperti kolam alami milik pribadi.

Setelah puas di Weekuri, kami menuju Pantai Mandorak yang jaraknya kurang lebih cuma dua kilometer dari Weekuri. Karena badan dan celana masih basah -dan memang lagi males ganti baju- akhirnya saya dan Sisco, Fara, Fitri, serta Ceni memutuskan untuk naik di bak terbuka Hillux-nya Jo. Seru juga menikmati Sumba dengan cara seperti ini. Udah lupain aja kulit yang makin gelap dan belang, yang penting hepi!

Tiba di Mandorak, kami langsung menuju pantainya. Jangan bayangkan Pantai Mandorak ini punya garis pantai yang panjang seperti pantai-pantai lainnya di Sumba. Pantai Mandorak ini berupa cekungan kecil dengan lebar kurang lebih 50 meter. Tapi bentuk pantai dan batu karang yang unik, derasnya ombak, putihnya pasir pantai, serta bangunan tradisional khas Sumba di sisi selatan pantai ini menjadikan Mandorak sebagai pantai tersembunyi yang eksotik.

Tapi kedepannya bisa jadi pantai ini sudah tak bisa lagi dinikmati gratis. Kawasan pantai udah dibeli orang asing, akses menuju pantai pun sudah dipagar, beruntung kami masih dibolehkan masuk. Selain masalah privatisasi, edukasi warga sekitar pada tamu atau wisatawan sepertinya juga perlu diperhatikan. Tak perlu lah meminta bayaran hanya untuk memotret bangunan khas Sumba di tepi pantai. Tapi biarlah hal itu diurus mereka yang berwenang. Saya sendiri di pantai Mandorak ini lebih suka bermain dan bercanda dengan anak-anak desa sekitar Mandorak.

Cheese! Main di pantai bareng adik-adik Desa Mandorak. (by Fun Adventure)

Sekitar jam 10 kami kembali ke Tambolaka untuk checkout hotel dan prepare perjalanan panjang menuju Tarimbang. Oh iya, sebelum makan siang, saya dan Jo sempat kembali ke Bandara Tambolaka untuk menjemput satu peserta trip yang baru tiba hari Sabtu. Yup, siapa lagi kalau bukan Eli. Terakhir kali saya ngetrip bareng Eli adalah di Kota Kinabalu, dan akhirnya kami satu trip lagi di Sumba ini. Setelah kembali ke hotel, packing, dan makan siang, kami semua melanjutkan perjalanan ke Tarimbang. Dari cerita Agus, perjalanan ini lumayan panjang dengan medan cukup berat. Dan benar saja, panjangnya perjalanan masih dibumbui insiden “air radiator” di mobil elf untuk kedua kalinya. Benar-benar perjalanan penuh drama!

Awalnya kami berencana menikmati sunset di Tarimbang, tapi karena kendala mobil dan perjalanan yang cukup panjang, kami pun harus mengalihkan spot ke lokasi lain. Gak masalah sih, karena di Sumba, lepas satu spot cantik, akan digantikan dengan spot yang tak kalah cakep lainnya. Dan benar saja, sore itu kami cukup menikmati sunset di Bukit Wailara, lokasi yang sejauh mata memandang terlihat bukit-bukit dan lembah-lembah yang membentuk indahnya landscape Sumba. Tak heran kalo Sumba dijuluki sebagai Pulau Seribu Bukit.

Bareng Sisco, Fara, Fitri, dan Ceni di Hilux putihnya Jo. (by Sisco)

Dari bukit Wailara ini perjalanan menuju Tarimbang dilanjutkan dengan kondisi gelap dan jalan berliku. Jalanan beraspal menghilang kira-kira 5 km menuju Tarimbang, berganti dengan jalanan tanah berbatu. Beruntung, hujan yang sudah lama tak turun membuat kondisi jalan tak makin parah. Tiba di Tarimbang sekitar jam 7 malam, kami langsung membagi kamar, kecuali rombongan dokter yang sudah lebih dulu sampai. Menu dinner kami malam itu adalah Nasi Rawon Sumba. Usai makan malam, beberapa temen ada yang langsung balik ke cottage, sebagian lagi masih bertahan di ruang makan untuk memainkan sebuah game terheboh sepanjang masa, Warewolf!

Pulau Seribu Bukit! Amazing view dari Bukit Wailara. (by Fun Adventure)

Saya awalnya tak terlalu concern dengan permainan ini, tapi lama-lama penasaran juga. Akhirnya saya pun ikut bermain meski belum tau persis gimana cara mainnya. Jadi begini, game Warewolf itu dimainkan oleh beberapa orang, dengan satu pemain menjadi “Tuhan”. Si “Tuhan” ini yang membagikan kartu remi As, J, Q, K, 10, dan Joker. Pemain yang dapat Kartu As berarti dia menjadi Warewolf. Kartu J-Q-K berarti warga biasa, kartu Joker berarti menjadi Polisi, dan kartu 10 sebagai healer. Peran yang terakhir ini bisa dihilangkan sesuai kesepakatan. Masing-masing pemain harus bersandiwara -atau pura-pura pasang wajah inocent- untuk mempertahankan perannya, entah sebagai Warewolf, Polisi, atau warga biasa. Permainan akan berakhir untuk kemenangan Warewolf bila polisi terbunuh, dan kemenangan untuk warga sipil dan polisi bila Warewolf yang terbunuh. Pokoknya seru deh game ini. Kita bisa saling tuduh, sekongkol, pasang muka polos, atau bersandiwara penuh drama untuk mempertahankan peran masing-masing. Malam itu, game ini baru berakhir saat lampu ruang makan meredup sebagai tanda genset mulai habis. Dan kami pun kembali ke cottage.

Sampai di cottage, langsung tidurkah kita? Tentu saja tidak. Game warewolf memang berhanti -untuk sementara- tapi ada game lain yang bener-bener jahanam! Idenya Si Ciput nih. Game tebak-tebakan. Ada beberapa tebakan, dari Pendengaran 1-2-3, Gedung Bertingkat, Around The World, dan Lawan Kata. Semua kode bisa terpecahkan, kecuali satu, game paling somplak yang bikin hampir semua temen-temen gak bisa tidur! Kami menamakannya permainan “Segitiga Diantara”. Gak ada yang bisa mecahin kode tebakan game dengan kata kunci “pendengaran” ini, kecuali -tentu saja- Si Ciput karena dia yang punya tebakan. Agus dan Jo juga tahu sih, tapi dua orang ini cuma ketawa ngikik dan senyam-senyum aja. Asem banget. Di saat kita setengah mati mikir jawabannya. Bahkan Kak Fitri sampai mencari jawaban berdasarkan pekerjaan, jenis kelamin, golongan darah, dll. Belum cukup? Ada lho yang katanya sampai kebawa mimpi sama permainan ini. Indi, sehat? Hahaha, jlebbb banget kan game ini?

Ya udahlah ya, jawabannya disimpen dulu, sekaligus kita lanjutin cerita hari ketiga, keempat, dan kelima dari Trip Sumba di bagian dua tulisan ini.

Special Photo

Pak Bele, sopir elf kami selama di Sumba. Kami akan selalu kangen dengan teriakan “Pukimai!” dari bapak yang satu ini. Suaranya kenceng, mimik mukanya tajem, tapi hatinya lembut. Sosok pekerja keras yang sebenarnya ramah dan enak diajak ngobrol. Terima kasih juga untuk sebotol Peci-nya pak. Rasanya emang bener-bener Pukimai, hahaha!!! (foto via Juragan Koppi)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s