Jelajah Pulau Sumba Dari Tarimbang ke Waingapu (2)

Jelajah Pulau Sumba Dari Tarimbang ke Waingapu (2)


Sumba, seperti pulau-pulau di kawasan Indonesia Timur lainnya, memang dianugerahi pantai-pantai istimewa bak serpihan surga. Salah satu wujud kecantikan Sumba ada di Tarimbang.

Pantai Tarimbang ibarat pelepas dahaga dan obat lelah paling mujarab setelah sehari sebelumnya kami menempuh perjalanan panjang dari Sumba Barat. Letak pantai ini cukup jauh dari keramaian, akses jalan ke kawasan ini saja masih berupa aspal tipis yang sudah terkikis dan beberapa bagian jalan tanah berbatu.

Belum banyak sampah plastik berceceran di sekitar pantai ini. Pantai Tarimbang begitu bersih, alami, dan sepi. Sebuah kondisi yang membuat pantai ini ibarat “private beach” bagi siapa saja yang mengunjunginya. Buat yang hobi surfing, pantai ini juga punya gulungan ombak terbaik di Sumba. Ombaknya panjang, tanpa putus, dengan ketinggian sekitar dua sampai tiga meter.

Gak bisa surfing? Gak punya papan surfing? Hammocking aja! Di pantai Tarimbang ada sebuah pohon bakau besar yang sudah kering dan sepenuhnya botak alias tak berdaun. Pohon ini bentuknya melengkung dan bisa dipanjat dengan mudah. Pohon ini juga menjadi spot foto favorit traveler yang datang ke pantai ini. Sebuah lokasi yang sangat instagram-able di Tarimbang.

Puas main di pantai, saatnya kembali ke penginapan. Beruntung kami menginap di Sumba Paradise Resort. Cottage keren yang dulunya bernama Peter’s Magic Resort ini punya kolam renang ala-ala infinity pool. Jadi habis main di pantai, kamu gak perlu bilas baju atau langsung mandi, nyebur aja dulu di kolam ini.

Surfer in tarimbang beach In frame @hei_sisqo #Sumba #Wonderfulsumba #wonderfulindonesia #ExploreSumba

A post shared by Bromo Malang Everyday (@funadventure_) on

Dari Sumba Paradise Resort ini kami melanjutkan perjalanan menuju Sumba Timur. Apesnya, baru jalan beberapa meter dari pintu keluar cottage, ban mobil bagian belakang sebelah kanan kempes. Jadilah kami ganti ban dulu. Beruntung kami punya driver seperti Pak Bele yang rajin dan gak ngeluh meskipun beberapa kali apes di tengah jalan.

Perjalanan dari cottage menuju Sumba Timur, kami melewati sebuah pohon yang oleh orang lokal disebut “pohon sinyal”. Percaya gak percaya, di sekitar daerah sini memang sulit dapet sinyal. Orang harus mendekat ke sebuah pohon besar di tepi jalan ini untuk bisa telepon, sms, atau update status. Saya pun sempat telepon dan update status Path di pohon sinyal ini.

Cukup lama juga perjalanan dari Tarimbang ke Sumba Timur, kurang lebih lima sampai enam jam. Di tengah perjalanan, kami berhenti di bukit Warinding, salah satu bukit paling femes di Sumba karena jadi lokasi syuting film Pendekar Tongkat Emas. Landscape di sekitar tempat ini emang cakep sih. Sejauh mata memandang cuma ada bukit dan lembah berwarna hijau, dengan sesekali terlihat beberapa ekor kuda.

Sekedar catatan, kalo main ke bukit ini, usahakan bawa buku-buku pelajaran untuk anak-anak SD, karena di bukit ini kita pasti akan bertemu dengan anak-anak kecil yang tinggal di sekitar lokasi ini. Mereka menemani kita naik ke bukit, mau diajak foto-foto bareng, dan sangat senang sekali kalo dikasih permen atau buku.

Habis dari Bukit Warinding, perjalanan berlanjut ke sebuah padang rumput yang berbatasan langsung dengan pantai. Namanya Puru Kambera. Lokasi ini bener-bener cakep, apalagi saat sore menjelang sunset. Perbukitan landai, jalan raya beraspal yang mulus, dan garis pantai yang memanjang jadi pemandangan spektakuler di sore hari. Sunsetnya pun istimewa.

Karena baterei handphone dan kamera udah pada menipis, saya pun meninggalkan semua gadget dan kamera saat menikmati indahnya sunset di Puru Kambera ini. Dan ternyata kesan yang ditinggalkan lebih dalem. Tanpa handphone, tanpa gadget, tanpa kamera, hanya memandang sunset sambil bercerita dan tertawa bareng temen-temen trip. That was priceless, unforgettable moment.

Hari keempat di Sumba, pagi-pagi kami menuju sebuah kawasan bernama Bukit Mauhau. Sebuah perbukitan tak jauh dari pusat kota dan bandara Waingapu. Dari atas bukit ini terlihat jelas pemandangan kota, pantai, dan sawah-sawah warga Sumba di sekitar Waingapu. Di sini juga terdapat sebuah goa peninggalan jaman penjajahan Belanda.

Dari Bukit Mauhau, perjalanan berlanjut menuju Desa Adat Rende, desa adat pertama yang kami kunjungi di Sumba Timur. Hampir sama dengan desa adat-desa adat sebelumnya di Sumba Barat dan Barat Daya, di tempat ini juga identik dengan makam leluhur berupa batu-batu besar yang tertata rapi di depan rumah-rumah adat.

Salah satu bangunan di kompleks desa adat ini konon digunakan sebagai tempat menyimpan mayat sebelum dimakamkan. Usia mayat tersebut bisa mencapai belasan bahkan puluhan tahun. Tapi tak tampak suasana angker maupun seram di sekitar desa adat Rende ini. Anak-anak kecil leluasa bermain di sekitar rumah adat. Mereka juga sangat antusias diajak berfoto. Eh jangan lupa bawa buku pelajaran ya untuk adek-adek kecil kita di desa Rende ini.

Di sini kamu juga bisa mencoba pakaian khas adat Sumba. Terdapat beberapa lembar pakaian adat yang bisa dipilih, dipakai, difoto, dan selfie. Gak cuma buat narsis aja, pakaian adat dan beberapa lembar kain tenun khas Sumba dari Desa Rende ini juga bisa dibeli untuk oleh-oleh. Harganya memang agak mahal, tapi worthed untuk sebuah kain tenun yang benar-benar asli Sumba.

Pantai Walakiri jadi tujuan kami berikutnya setelah dari Rende. Pantai ini sebenarnya merupakan pantai di dekat perkampungan nelayan. Tapi tak tampak sampah berserakan atau limbah rumah tangga seperti kampung-kampung nelayan yang biasa kita temui. Di sini pantainya bersih, sepi, dan bisa buat gegoleran sampai sore. Kalau bawa hammock, coba deh gaya tripple hammock di Pantai Walakiri!

Pohon-pohon bakau yang tak terlalu tinggi merupakan ciri khas pantai ini di sisi selatan. Saat sore, banyak anak-anak kecil mencari ikan dan kepiting di sekitar pepohonan bakau ini. Saat matahari tenggelam, siluet mangrove di Pantai Walakiri ini bener-bener amazing. Maudi Ayunda aja konon pilih tempat ini buat lokasi syuting salah satu video klipnya.

Malam terakhir di Sumba, kami habiskan dengan transfer foto dan main warewolf sampai dini hari di kamar hotel. Semua peserta trip tumplek blek di kamar, tanpa terkecuali, termasuk si Agushong, Ciput, dan Bang Jo. Dan baru di malam terakhir ini juga misteri jawaban dari pertanyaan “Segitiga di antara” akhirnya bisa saya pecahkan. Hahahaha… bisa mati penasaran kalau sampai cabut dari pulau ini tapi gak bisa jawab tebak-tebakan paling goblosss sedunia ini.

Pagi hari sebelum meninggalkan Sumba, kami masih sempat mampir di Kampung Adat Raja Prailiu untuk membeli beberapa souvenir kain tenun khas Sumba. Dan tak lupa, berpose ala Pangeran Sumba.

Sumba penuh dengan cerita dan kenangan. Gak bakal bosan kembali lagi ke pulau cantik ini. Sampai jumpa lagi, Humba Ailulu!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s