You Don’t Need To Be Rich To Travel

You Don’t Need To Be Rich To Travel


You don’t have to be rich to travel well, kata Eugene Fodor. Traveling bukan hal baru, dan bukan sebuah barang mewah. Dulu traveling bisa dikategorikan sebagai kebutuhan tersier, sekarang ini traveling sudah jadi kebutuhan sekunder, bahkan primer untuk sebagian orang.

Untuk traveling pun tak harus menghabiskan ratusan juta untuk jalan-jalan ke puluhan negara dan ratusan destinasi wisata. Semua orang bisa jalan-jalan ke destinasi impian tanpa harus mengeluarkan budget besar, asal tau caranya.

Sekali lagi, asal tau cara dan triknya, kita tak harus mengeluarkan ratusan atau puluhan juta untuk traveling. Dengan budget terbatas pun kita bisa traveling. Dan itulah yang selalu saya lakukan selama ini.

If travel is not a priority for you, you will always find some other things to spend money on and you’ll never have enough money to travel.

Hampir semua perjalanan saya dalam tiga tahun terakhir di Indonesia dan Asia Tenggara adalah own budget, kecuali on duty trip seperti tour leader dan kerjaan kantor lainnya seperti ke Bandung, Bali, atau Singapura.

Selalu pakai Low Cost Airline

Dalam sebuah survey Travel 3 Sixty, hal yang paling disyukuri traveler abad 21 adalah adanya Low Cost Airlines. Kebutuhan akan penerbangan berbiaya rendah ini mengalahkan kebutuhan traveler pada gadget, GPS, dan social media. Dan memang benar, hampir semua perjalanan saya sangat terbantu dengan tiket promo dari Low Cost Airlines, bahkan hingga kini saya belum pernah sekalipun traveling memakai pernebangan full-service.

Desember 2013 saya keliling Johor Bahru, Kuala Lumpur, dan Melaka berkat promo “0 Rupiah Air Asia”. Emang sih nggak bener-bener nol rupiah karena kita tetap mengeluarkan biaya lain seperti airport tax -saat itu masih terpisah dengan tiket, transportasi, akomodasi, dan lain-lain.

Saat trip Bangkok-Pattaya Februari 2014 saya pakai promo “Return For Free” Tiger Air Mandala. PP SUB-BKK cuma satu juta. Sayang, beberapa bulan kemudian Tiger Air Mandala menghentikan operasionalnya di Indonesia. Saya ke Festival Songkran di Phuket dengan tiket promo Air Asia SUB-DMK, dan pulangnya promo Jetstar HKT-SIN dan dilanjutkan fare normal SIN-SUB. Total biaya PP Surabaya – Phuket sekitar Rp 1,5 juta.

Untuk rute domestik, saya bisa memangkas lebih dari separo biaya peralanan Trip Komodo dengan tiket terendah PP SUB-LOP 600 ribuan, dilanjutkan perjalanan darat-laut Mataram ke Labuan Bajo. Total cost perjalanan sekitar 1,2 jutaan. Angka yang cukup murah untuk trip Sail Komodo dan Overland Flores.

Share-cost Traveling

Selain rutin cari tiket promo, saya juga hampir selalu ikut open trip. Selain itu juga ikut traveling rame-rame ala share-cost yang cukup menekan pengeluaran. Empat hari di Belitung saya cuma keluar 750 ribuan. Tiga hari dua malam ke Pulau Tunda habis 500 ribuan. Angka yang hampir sama untuk Trip Krakatau dan Pahawang.

Saya hampir tidak pernah melakukan solo trip. Selain berat di ongkos, menurut saya traveling sendirian itu kurang efektif karena kita melewatkan waktu untuk berbagi pengalaman, sharing, dan dapat kenalan baru seperti open trip. It’s all about choices. Pilihan tiap orang bisa jadi berbeda.

Lantas, apakah dana yang kita keluarkan saat traveling bisa “balik modal”? Buat saya: bisa! Sebagian orang mungkin beranggapan traveling atau jalan-jalan itu ngabisin waktu dan duit. Tapi saya berprinsip harus tetap produktif saat traveling. Tidak berarti kita selalu dapat untung atau sekedar balik modal saat itu juga, tapi bisa jadi modal kita kembali minggu berikutnya, bulan berikutnya, atau bahkan tahun berikutnya. Investasi.

Travel is life, not a holiday.

Saya bisa bekerja dengan laptop dan koneksi internet dari cafe pinggir pantai di Tanjung Pandan, atau dari ramainya kawasan Bukit Bintang. Selama ada koneksi internet, saya bisa membalas email, menulis artikel, update blog, mengirim foto, menyelesaikan project desain website, serta mengupdate dan merevisi website dari kantor dan klien.

Dari beberapa pengalaman hunting tiket promo dan open trip di atas, sudah jelas bahwa kita tak perlu mengeluarkan belasan, puluhan, atau bahkan ratusan juta untuk jalan-jalan ke destinasi impian kita. Tapi traveling itu memang subjektif dan besar kecilnya biaya, mahal murahnya sebuah perjalanan, kembali pada kebutuhan kita masing-masing.

Tulisan ini bisa jadi sedikit gambaran bagaimana saya tak sampai mengeluarkan puluhan bahkan ratusan juta untuk traveling, tapi justru bisa produktif dan mendapatkan income dari traveling.

Sebagai catatan, saya pun sama seperti kebanyakan orang lainnya. Seorang pekerja kantoran, Senin sampai Sabtu. Bahkan kuliah S2 hari Senin sampai Rabu malam, di kota yang berbeda dengan kantor tempat saya bekerja. Yang paling penting adalah bagaimana kita bisa manage waktu, rencana, dan budget.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s