Tujuh Alasan Kenapa Pilih Solo Traveling Ala Backpacker

Tujuh Alasan Kenapa Pilih Solo Traveling Ala Backpacker


Lebih enak mana, solo traveling atau ikut tour alias bareng rombongan grup?

Pertanyaan itu sering muncul di setiap talkshow, diskusi, atau obrolan santai soal traveling. Jawabannya pun tetep sama dan simpel: sama enaknya, sama gak enaknya. Fifty-fifty.

Ibarat baju, musik, dan kuliner, di dunia traveling pun tiap orang punya gaya dan selera yang berbeda-beda. Tapi buat saya, solo traveling mampu memberi kesan lebih dalam dari perjalanan itu sendiri. Solo traveling di sini bukan berarti bener-bener “solo” alias seorang diri, tapi bisa berdua, bertiga, atau berempat (saya lebih suka angka genap), bukan rombongan satu minibus atau bus pariwisata.

Berikut beberapa alasan kenapa saya lebih suka solo traveling dengan model perjalanan on budget.

Menikmati "pulau pribadi" Gili Kondo, Lombok Timur
Menikmati “pulau pribadi” di Gili Kondo, Lombok Timur

1. Bebas Waktu

Lagi enak-enaknya foto-foto dan selfie, eeh iba-tiba ada yang teriak: “Teman-teman rombongan ABC segera kumpul karena kita akan melanjutkan perjalanan ke tempat berikutnya,”

Hal ini gak akan terjadi di solo traveling. Kita bebas menghabiskan waktu di pantai, snorkeling dari pagi sampai sunset, tiduran sepanjang hari di hammock, dan semacamnya. Karena bebas waktu, kita pun lebih maksimal dan lebih “intim” dengan keindahan destinasi di daerah tersebut.

Terpukau dengan keindahan arsitektur kuno di Htilominlo Pagoda, Old Bagan, Myanmar
Keindahan arsitektur kuno Htilominlo Pagoda di Old Bagan, Myanmar

2. Bebas Pilih Destinasi

Sudah kodratnya, traveling dengan grup atau rombongan akan terikat oleh itinerary atau jadwal perjalanan. Hari pertama ke tempat A, hari kedua ke lokasi B, dan seterusnya.

Dengan solo traveling kita bebas pilih tujuan sesuai yang kita mau. Gak suka ke galeri seni, pergi ke pusat kuliner. Lagi males ke pantai, coba walking tour di perkotaan. Malam harinya pun bebas pilih bar untuk hangout, dimana dan sampai jam berapa, karena keesokan paginya tak harus bangun pagi mengikuti jadwal tour.

Pergi sendiri bukan berarti kamu akan selalu kesepian. Di luar sana tak terhitung jumlahnya traveler-traveler yang juga pergi sendiri, lalu saling bertemu, dan akhirnya jadi travelmate. Kamu akan selalu menemukan teman baru di perjalanan.

Lombok - Jawa - Perancis, berbeda-beda tapi satu homestay di Gili Trawangan
Lombok – Jawa – Perancis, beda suku dan negara tapi nginepnya di homestay yang sama

3. Bebas Tentukan Biaya, Bebas Kapan Berangkat Kapan Pulang (Gak Pulang Pun Bebas)

Hemat atau boros, besar atau kecil pengeluaran saat traveling itu sangat relatif. Tapi buat saya, solo traveling memungkinkan kita lebih berhemat karena bisa menentukan kapan dan kemana harus pergi saat ada promo maskapai. Beberapa waktu lalu AirAsia promo “Bayar Airport Tax Saja”. Saya dapat harga MYR 399 (sekitar RP 1,4 juta) ke Tokyo. Harga yang hampir sama untuk ke New Delhi. Waktu dan tanggalnya ditentukan sendiri, mau berapa lama, mau kemana aja, mau tidur dimana, semua diatur sendiri. Lebih hemat dan independen.

Bebas memilih biaya juga berkaitan dengan pilihan penginapan. Dengan solo traveling, kita bisa menginap di hostel atau dormitory dengan biaya di bawah IDR 100k per malam. Banyak hal positif yang bisa kita dapat dengan menginap di hostel. Selengkapnya baca di artikel ini.

Bersama anak-anak Desa Adat Rende di Sumba Timur
Bersama anak-anak Desa Adat Rende di Sumba Timur

4. Lebih Hemat

Pertengahan 2015 lalu, AirAsia punya program “AirAsia Asean Pass”. Dengan program ini kamu bisa beli 10 atau 20 poin untuk perjalanan keliling Asia Tenggara dalam periode tertentu (satu bulan). Kamu bisa terbang dari Surabaya ke Kuala Lumpur (2 poin), Kuala Lumpur – Phuket (1 poin), Phuket – Bangkok (1 poin), Bangkok – Hanoi (2 poin), Hanoi – Kuala Lumpur (2 poin), dan Kuala Lumpur – Surabaya (2 poin), total 10 poin. Hari dan tanggalnya bebas tentukan sendiri. Mau ngapain aja di destinasi tujuan juga bebas atur sendiri. Keliling Asia Tenggara dengan model seperti ini cuma bisa dilakukan dengan solo traveling -atau grup kecil 2-4 orang.

Huruf keriting: Di terminal bis Phuket
Huruf keriting semua di loket bis terminal Phuket

5. Get Lost

Kamu akan sulit merasakan “nikmatnya” get lost saat melakukan perjalanan dengan grup atau rombongan tour. Kecuali, kamu terrpisah dari rombongan atau lupa jalan ke tempat parkir bis.

Get lost bisa kamu rasakan dengan solo traveling. Daerah baru, kota baru, negara baru, bahasa baru, bahkan tulisan baru. Parahnya lagi ketika mayoritas orang lokal gak bisa bahasa Inggris. Disitulah kita akan terlatih untuk membaca peta, bertanya jalur bis kota, bertanya lokasi jalan, tempat, sampai tawar menawar harga taxi. Saat itulah kita akan terlatih untuk berinteraksi dengan orang asing, melatih kesabaran, keberanian, sekaligus kewaspadaan.

Ngerjain polisi Thailand, Festival Songkran 2015 di Phuket
Kapan lagi bisa iseng ke polisi Thailand kalo bukan Songkran di Phuket?

6. Travel Like Locals

Traveling dengan group tour artinya mayoritas perjalanan kita dilakukan dengan fasilitas mobil atau bis pariwisata. Kursinya empuk, reclining seat, full music dan video, ada colokan listrinya, dan ada Wifi-nya.

Dengan solo traveling, kita akan merasakan panasnya bis kota di Yangon, sensasi naik tuk-tuk di Bangkok, uniknya naik Jeepney di Manila, atau serunya naik di atap bis dari Pelabuhan Sape ke Bima di Sumbawa.

Demikian pula soal makanan atau kuliner. Kamu mungkin bisa mencicip menu lokal di rumah makan atau restoran yang sudah dipesan untuk rombongan atau grup. Tapi rasa, varian, suasana dan sensasi makanan lokal di warung kecil atau streetfood sangat jauh berbeda. Kita bisa mencoba makanan yang belum pernah kita makan sebelumnya. Atau ketika datang awkward moment, seperti “gagal bahasa”, dimana kita cuma bisa nunjuk-nunjuk sambil menirukan cara makan orang-orang di sekitar. When you travel, eat what locals eat.

Seperti keluarga sendiri di rumah Kepala Desa Mantar, Sumbawa Barat.
Seperti keluarga sendiri di rumah Kepala Desa Mantar, Sumbawa Barat

7. Keramahan Warga Lokal

Yang terakhir ini tentang feel. Jadi tidak semua orang merasakan hal yang sama.

Saat traveling dengan grup atau rombongan, kadang kita berkunjung ke sebuah desa adat. Tak jarang rombongan disambut dengan kesenian tradisional bahkan kalungan bunga alias seremonial. Tanpa kita sadari hal itu menjadi gap pemisah antara wisatawan dengan warga lokal.

Hal ini tidak terjadi ketika solo traveling. Warga lokal akan membuka pintu dengan sukarela, senyum dan tawa mereka ikhlas, mereka bahkan mengeluarkan semua yang ada di dapur untuk orang asing -yang tidak dikenal sebelumnya. Saya pernah singgah di rumah sopir Overland Flores di Manggarai Barat dan disembelihkan seekor ayam! Orang lokal akan menyambut solo traveler dengan keakraban, layaknya keluarga yang datang dari jauh, dan ingin memberi kesan yang baik tentang adat dan budaya leluhur mereka.

Apapun tipe traveling kamu, tetaplah nikmati enjoy dan menikmati. It’s not about the destination, but the journey.

Advertisements

2 thoughts on “Tujuh Alasan Kenapa Pilih Solo Traveling Ala Backpacker

  1. Yuppp, I really can relate. Jalan2 tp dikekang itinerary tour itu sangat ga asik. Jalan2 ber2 – ber 4 apalagi kalau dgn sahabat dekat akan sangat seru 🙂 Tour lebih cocok kalo kita ke tmpt yang benar2 buta dari bahasa, culture sampai daerahnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s