Traveling Sumba, Dari Tambolaka Sampai Waingapu

Traveling Sumba, Dari Tambolaka Sampai Waingapu


Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan pulau-pulau di kawasan Lesser Sunda dikenal memiliki landscape pantai dan perbukitan yang sangat cantik dan alami. Tak terkecuali Pulau Sumba, yang terletak di selatan Selat Sumba dan Laut Sawu (lihat peta Sumba).

Sudah lama saya merencanakan perjalanan ke Sumba, bahkan sebelum pamor pulau ini naik pasca film Pendekar Tongkat Emas akhir tahun 2014 lalu. Sumba punya banyak destinasi eksotik yang masih alami dan relatif belum banyak tersentuh komersialisasi dan industri wisata.

Baca juga: Instagraming Sumba, The Thousand Hills Island

Untuk terbang ke Sumba, ada dua bandara yang bisa dituju, Tambolaka dan Waingapu. Tambolaka di Sumba Barat Daya, Waingapu di Sumba Timur. Dari Jakarta atau Surabaya, kedua bandara ini bisa ditempuh via transit Denpasar. Kalo ingin eksplore Sumba dari arah Barat, ambil start Tambolaka. Kalo ingin mulai dari Timur, ambil start Waingapu.

Tambolaka adalah ibukota Kabupaten Sumba Barat Daya. Kota kecil ini tak seramai Waingapu. Tapi Tambolaka sudah cukup layak untuk transit wisata. Ada penginapan dekat bandara, beberapa warung makan, dan pasar tradisional. Dengan sedikit pembangunan lagi, Tambolaka bisa menjadi “pintu gerbang” Pulau Sumba dari arah barat.

Bersama adik-adik Sumba di Desa Rotenggaro
Bersama adik-adik Sumba di Desa Rotenggaro

Di Tambolaka, destinasi pertama yang saya tuju adalah Desa Adat Rotenggaro, salah satu desa adat tertua di kawasan barat Sumba, terlihat dengan struktur bangunan dan beberapa nisan kubur bergaya megalitik. Tak jauh dari Rotenggaro ada pantai cantik tempat menikmati sunset, Pantai Pero. Lokasi ini juga terkenal di kalangan surfer karena ombaknya yang cukup besar. Menikmati sunset Pero bersama anak-anak lokal di desa nelayan ini membuat kita merasakan damai dan naturalnya Sumba.

Untuk menuju Rotenggaro dan Pantai Pero, kita bisa naik bis umum dari Tambolaka dengan perjalanan kurang lebih 30 menit. Tapi kalo ingin lebih nyaman, kita bisa sewa mobil plus driver dari penginapan di Tambolaka. Rotenggaro dan Pero juga masuk destinasi utama di open trip Fun Adventure. Bisa cek jadwal trip dan booking di www.fun-adventure.com.

Yakin gak pengen nyebur di Danau Weekuri ini?
Yakin gak pengen nyebur di Danau Weekuri ini?

Hari kedua di Sumba, pagi-pagi sekali saya menuju Danau Weekuri. Lokasinya cukup terpencil, di wilayah selatan Sumba Barat Daya. Sebaiknya menuju lokasi ini dengan driver atau local guide karena tak banyak petunjuk menuju lokasi ini.

Danau Weekuri adalah danau air payau berbentuk laguna yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Tebing karang setinggi 30an meter menjadi dinding alami yang memisah ombak besar di laut lepas dengan danau ini. Air danau sangat tenang dan bening. Karena sifat airnya yang payau, mereka yang tak bisa berenang pun bisa mengambang di danau ini. Nikmati danau ini di pagi hari saat sinar matahari belum terlalu terik dan rasakan segarnya air payau laguna Weekuri.

Setelah puas berenang di Weekuri, ada satu tempat lagi yang bisa disinggahi, yaitu Pantai Mandorak. Pantai ini jaraknya hanya sekitar 2 kilometer dari Danau Weekuri. Garis pantainya memang tidak terlalu panjang, dengan ombak yang sangat besar. Tapi pemandangan dari atas batuan karang di pantai ini bikin kita betah berlama-lama di Mandorak.

Pantai Mandorak
Pantai Mandorak

Rute berikutnya setelah dari Mandorak adalah Bukit Maladong. Lokasi ini berbentuk bukit yang menjorok ke lautan dengan pemandangan laut lepas dan debur ombak yang menawan. Di sebelah barat Bukit Maladong kita bisa menuju Pantai Buana, pantai yang identik dengan karang besar berbentuk “batu bolong” dan menjadi spot favorit traveler untuk menikmati sunset.

Malam kedua di Sumba, saya menginap di ibukota Kabupaten Sumba Barat, Waikabubak. Jarak dari Tambolaka ke Waikabubak sekitar 45 menit perjalanan. Dari Waikabubak ini esok paginya bisa langsung menuju Air Terjun Lapopu, sebuah air terjun alami yang disebut-sebut sebagai Niagara Dari Timur. Air terjun ini makin populer setelah jadi salah satu lokasi syuting Pendekar Tongkat Emas.

Air Terjun Lapopu, oase di tengah keringnya Sumba
Air Terjun Lapopu, oase di tengah keringnya Sumba

Dari Lapopu, perjalanan berlanjut menuju Tarimbang. Perjalanan cukup jauh, sekitar lima sampai enam jam, melewati perbukitan dan hutan yang masih alami. Biasanya di perjalanan kita akan berhenti sejenak untuk menikmati sunset di Bukit Lailara. Sebuah spot sunset yang terletak di puncak perbukitan dan lembah khas Sumba. Sempurna!

Tarimbang Resort, instagramable!
Tarimbang Resort, instagramable!

Meskipun lokasinya cukup jauh dan terpencil, Pantai Tarimbang bisa disebut sebagai “permata”nya Sumba karena punya pantai yang sangat indah dan masih “perawan”. Belum ada bangunan megah sekelas hotel atau villa, hanya ada satu-dua penginapan homestay, salah satunya yang paling hits adalah Peter Magic Resort atau yang sekarang ganti nama jadi Tarimbang Paradise Resort.

Tips: Karena jauhnya perjalanan dari Lapopu ke Tarimbang, sebaiknya bermalam di homestay sekitar pantai. Fasilitas di sini masih minim, belum ada listrik (beberapa tempat menyediakan genset) dan sinyal. Jadi benar-benar “get lost” dari dunia luar. Lupakan smartphone, lupakan eksis di media sosial, just enjoy keindahan Tarimbang dan keramahan masyarakatnya.

Hari keempat di Sumba, perjalanan pagi dari Tarimbang menuju Waingapu. Mendekati perbatasan Waingapu, kita bisa berhenti sejenak di Bukit Wairindin. Lokasi ini cukup populer karena (lagi-lagi) adalah lokasi syuting Pendekar Tongkat Emas. Pemdangan dari bukit ini emang cakep maksimal, apalagi kalo kamu datang saat cuaca sedikit mendung. Landscape perbukitan dengan beberapa ekor kuda menggambarkan keseluruhan Sumba sebagai “Pulau Seribu Bukit”.

Bukit Wairinding, cakepnya bikin merinding
Bukit Wairinding, cakepnya bikin merinding

Setelah puas di Wairinding, perjalanan berlanjut menuju Waingapu, kota paling ramai dan modern di Pulau Sumba. Ibukota Sumba Timur ini juga terkenal dengan beberapa spot sunset yang cukup cantik, dua di antaranya adalah Puru Kambera dan Pantai Walakiri. Purukambera terkenal dengan bukit savana dan garis pantainya yang panjang, sementara Walakiri memiliki spot sunset berupa pepohonan mangrove yang eksotis di pantainya.

Setelah berhari-hari di perjalanan dan makan menu yang itu-itu aja, pasti laper dong? Ada banyak pilihan menu di Waingapu, yang paling hits adalah Seafood Pelabuhan. Kalo mau beli oleh-oleh atau cemilan juga ada beberapa toko di sekitar pusat kota Waingapu. Khusus untuk oleh-oleh kain tenun asli Sumba, bisa didapatkan di Desa Adat Priliu. Di sini kita tak hanya bisa membeli oleh-oleh kain Sumba, tapi juga mencoba pakaian adat ala Pangeran dan Putri Sumba.

Keindahan alam dan budaya Sumba yang masih alami, keramahan masyarakat lokal dan desa adatnya, serta lezatnya seafood Waingapu bikin saya selalu ingin kembali ke pulau ini.

See you again, Sumba!
See you again, Sumba!

Artikel ini juga dimuat di Breaktime.co.id, dengan editing gaya bahasa dan penulisan.

Advertisements

2 thoughts on “Traveling Sumba, Dari Tambolaka Sampai Waingapu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s